Primadona yang Menjadi Petaka





Satu bulan belakangan ini kita menjalani kehidupan dengan berbagai batasan
sosial. Berbagai langkah pemerintah dalam memutus rantai penyebaran virus Covid-
19 terus dilakukan. Mulai dari Social Distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar
(PSBB), hingga menutup ruas jalan. Semua itu merupakan langkah yang tepat.
Semua kegiatan sosial yang bersifat mengumpulkan orang dibatasi, mulai dari
sektor pendidikan, ekonomi, sosial dan yang lainnya.

Pemerintah memberikan solusi dalam memberlakukan berbagai kegiatan
menggunakan sistem internet atau yang kita sebut dengan istilah daring atau online.
Diantaranya berbagai sektor pendidikan, perekonomian, termasuk kuliah daring.
Salah satu media yang efektif digunakan untuk menunjang kuliah daring ini adalah
aplikasi Zoom Meeting yaitu aplikasi yang memungkinkan sesama pengguna bisa
melakukan meeting, atau bertatap muka satu sama lain.

Ditengah pandemi covid-19 ini, zoom menjadi primadona sebagai aplikasi
untuk melakukan meeting secara online maupun menjalankan perkuliahan.
Pengguna zoom naik secara signifikan. Karena fiturnya yang lumayan lengkap
Sayangnya, akhir-akhir ini muncul beredarnya berita peretasan dan pencurian data
aplikasi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Seperti yang diungkapkan salah
satu portal berita cnbcindonesia.com, Sekitar 500.000 lebih data akun zoom dijual
hacker ke situs Darkweb.

Seperti mencari kesempatan dalam kesempitan, petaka baru yang muncul
tengah-tengah wabah. Para pelajar atau mahasiswa menjadi takut dan was-was.
Bagaimana tidak? Di Indonesia sendiri tidak sedikit dari mereka yang menjadi
korban.

Zoom yang seharusnya menjadi media alternatif diskusi dan belajar, kini menjadi
momok yang menakutkan. Banyak dari mereka yang awalnya menggunakan aplikasi
ini kini mulai ditinggalkan dan menghapus semua data dan informasi mereka
lantaran takut akan menjadi korban berikutnya.

Lantas, bagaimana nasib mereka para pencari ilmu ini? Sampai kapan para
pelajar dan mahasiswa dibuat seperti ini? Seharusnya mereka bisa belajar dengan
tenang dan nyaman. Namun untuk saat ini, semua itu tidak berlaku. Beberapa dosen
dan guru menggunakan media alternatif lainnya seperti Whatsapp, Google
Classroom agar sistem perkuliahan masih dapat dilakukan dengan baik dan efektif
meski tak sebaik zoom.

Antisipasi dini

Ada beberapa cara untuk menghadapi situasi seperti ini, beberapa pakar
teknologi menganjurkan untuk menonaktifkan akun dan menghapus akun email yang
tertaut tersebut. Ini dilakukan sebagai pencegahan agar tidak menjadi korban
selanjutnya.

Karena dalam aplikasi zoom menggunakan alamat email yang diperlukan
untuk login ke sistem. kemudian menggunakan password yang berbeda di setiap
akun media sosial. Bagi sebagian orang yang sudah menjadi korban, maka perlu
melapor ke pihak berwajib secepatnya.

Memang sangat disayangkan kasus pencurian data yang dilakukan oleh
pihak yang tidak bertanggungjawab ini. Mereka masuk dan menyusup kedalam
roomchat saat proses rapat atau pembelajaran berlangsung, mereka menggunakan
akun email. Sialnya dalam beberapa kasus kejadian, mereka memutar dan
menampilkan gambar yang sangat tidak pantas dan tidak senonoh, mencoret papan
presentasi online, menampilkan gambar yang menakutkan dan membuat onar
didalam room.

Dalam kasus yang berbeda mereka mencoba memasuki sistem yang ada di
handphone korban, mencuri semua data pribadi, dan parahnya lagi tak sedikit
korban yang kehilangan saldo m-banking mereka yang jelas jumlahnya tidak sedikit.
Begitu juga dengan cerita korban yang lainnya.

Jelas ini membuat pengguna terutama mahasiswa merasa ketakukan,
sebagian dari mereka yang mengetahui informasi ini merasa panik dan takut akan
data pribadi mereka dan memilih untuk mengambil langkah aman yaitu dengan
logout dan menghapusnya.

M. I'anur Rofi' (B71219065)




Komentar