Kado Untuk PMII: 61 Tahun Kiprah PMII Bersama NU

 


Oleh: M. I’anur Rofi’

Menilik sejarah dahulu pada tahun 1950-an, saat kondisi politik di Indonesia kurang stabil serta keresahan para mahasiswa NU yang ingin mendirikan organisasi baru, disamping itu HMI sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa Islam dinilai terlalu dekat dengan Masyumi, sedangkan Masyumi yang pada saat itu terlibat pemberontakan PRRI.[1] Hal tersebut seakan ‘memaksa’ para mahasiswa di Indonesia untuk mendirikan sebuah organisasi mahasiswa berlandaskan Ahlusunnah Wal Jamaah.

Melihat kondisi tersebut, IPNU mengadakan Konferensi Besar di Kaliurang, Yogyakarta pada tanggal 14-16 Maret 1960 dan mencetuskan lahirnya organisasi baru yang secara organistoris maupun administratif lepas dari IPNU, maka dari itu dibuatkan sponsor berjumlah 13 orang yang kelak mereka akan menjadi pendiri PMII. 3 dari 13 sponsor tersebut bersiap untuk berangkat ke Jakarta guna menghadapi ketua PBNU sekaligus meminta restu dan nasehat untuk menjalankan musyawarah tersebut. Hingga pada akhirnya tanggal 21 Syawal 1379 H atau 17 April 1960 M di Gedung Madrasah Muallimin Nahdlatul Ulama’ (Gedung Yayasan Khadijah) Wonokromo, Surabaya PMII dinyatakan berdiri.[2]

Seringkali dianggap kritikus dan tak jarang mereka dicap sebagai demonstran baik didalam maupun diluar kampus. Begitulah predikat yang diberikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia melihat ideologi dan kultur mereka yang dekat dengan santri dan tokoh NU yang terkenal kalem.

Dipesantren, pergerakan mereka kurang bebas sehingga kesempatan tersebut mereka gunakan dengan menelaah kitab-kitab klasik dan kontemporer. Hingga pada akhirnya saat mereka memasuki dunia kampus, mereka mulai mempelajari buku-buku faham kiri maupun ideologi pembebasan. Kerap kali dicaci karena gerakan mereka dianggap berorientasi di jabatan maupun kekuasaan saja. Namun bagi saya, PMII telah banyak melahirkan dedikasi dan distribusi  dalam berbagai aspek, tak hanya jabatan dan kekuasaan saja melainkan di beberapa aspek budaya, ekonomi, maupun sosial kemasyarakatan.

Mereka dikenal dengan culture oriented nya, dan tak pernah lari dari problematika umat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya aktivis PMII yang berteman baik dengan para buruh, petani, nelayan, hingga tukang becak guna menyampaikan aspirasi mereka kepada elemen bangsa, termasuk trias politika (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif) karena saat ini pemerintah sudah tidak berpihak terhadap kepentingan rakyat. Seperti yang dikatakan Mahbub Djunaidi “Pemerintah yang baik ialah yang berorientasi kepada kepentingan rakyat banyak, bukan berorientasi kepada sekelompok kecil tuan-tuan besar yang hidup di gedung bertingkat dilingkungi kaca seperti permen dalam peles.”

Gerakan PMII Dalam Kacamata NU

Bagi kader PMII, NU bukanlah sebuah organisasi massa yang hanya berjalan dibidang halaqah seperti majelis taklim, pengajian, maupun kumpulan keagamaan tradisional yang biasanya hanya dihadiri para orang tua. Lebih dari itu, PMII memaknai NU sebagai organisasi yang mentransformasikan visi para pendiri atau muassis NU sendiri. Seperti yang tertuang dalam AD-ART tujuan PMII yang berbunyi “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu serta berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.”

Paling tidak, ada 3 hal yang harus digali arah perjuangan PMII bersama NU, diantaranya:

a.       a. Ideologi

Didalam Nilai Dasar Pergerakan (NDP), PMII memilih Ahlusunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) sebagai basis pendekatan dalam berpikir, menghayati, dan memahami dalam beragama sehingga dalam hal ini selaras dengan perjuangan NU yang memiliki semangat tawasuth (moderat), al-hurriyah (kemerdekaan), tasamuh (toleransi), i'tidal (keadilan), al-hurriyah (persamaan), dan al-sulh (nilai perdamaian) sebagai landasan.

b.      b. Sosiologis

Bila dihubungkan PMII dan NU memiliki kesamaan sosio-ekonomi, sosio-kultur, maupun sosio-politik.

c.       c. Teknis

NU dan PMII sama-sama memiliki program kegiatan yang bergerak diberbagai aspek seperti pendidikan, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan sebagainya.[3]

 

Ketiga aspek itulah yang menjadi bukti ketegasan dan komitmen interdepensi antara PMII dengan NU. Secara ideologi PMII tak akan lepas dari faham Ahlusunnah Wal Jama’ah yang berarti, secara kultural-ideologis PMII dan NU tak dapat dipisahkan. Seperti pernyataan Gus Dur “Para aktivis PMII jangan takut jadi intelektual pengangguran. Banyak yang mesti dikerjakan di NU. Dan lapangan itu luas, selebar kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.”

 

Bagaimanapun, kita sebagai kader PMII dan NU harus tetap bisa berkomitmen dan berjuang mewujudkan tujuan dan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Selamat Hari Lahir PMII yang ke-61.



[1] Fauzan Alfas, PMII dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan, (Jakarta: Intimedia, 2015), hlm. 4

[2] http://www.pmii.or.id/sejarah, Website resmi Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, (diambil pada Senin, 09 April 2021 pukul 00.09 WIB)

[3] Ajie Najmuddin, PMII dan NU, https://www.nu.or.id/post/read/27292/pmii-dan-nu, (diakses pada Senin, 09 April 2021 pukul 00.14 WIB)

 

Komentar