Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaannya (Enjang, 2009. 24-34). Cara berkomunikasi sangat bergantung pada budaya: bahasa, aturan, dan norma masing-masing (Liliweri, 2011. 9). Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Komunikasi merupakan hal yang berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia lainnya.
Sedangkan dakwah antar budaya
merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek
dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan
interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersampaikan,
dengan tetap terpeliharanya situasi damai (Aripudin, 2012. 25).
Dakwah antar budaya merupakan kajian
proses berdakwah mengajak seorang manusia untuk menyampaikan pesan-pesan agama
Islam dan perilaku Islami sesuai dengan konsep budaya yang berkembang di
masyarakat.
Tujuan Dakwah dalam
Komunikasi Antarbudaya
Tujuan merupakan sesuatu yang
hendak dicapai melalui tindakan, perbuatan atau usaha. Tujuan studi dari
komunikasi antar budaya menurut Litvin bersifat kognitif dan afektif, yaitu
untuk mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima
gaya dan isi komunikasinya sendiri (Mulayana, 1998. xi).
Tujuan dakwah sebagaimana
dikatakan Ahmad Ghallusy adalah membimbing manusia mencapai kebahagiaan adalam
rangka merealisasikan kebahagiaan. Sedangkan Ra’uf Syalaby mengatakan bahwa
tujuan dakwah adalah meng-Esa-kan Allah SWT, membuat manusia tunduk kepada-Nya,
mendekatkan diri kepada-Nya dan introspeksi terhadap apa yang telah diperbuat.
Selanjutnya tujuan diklasifikasi menjadi dua bentuk, yakni tujuan umum dan
tujuan khusus
a. Tujuan Umum
Tujuan dakwah secara umum
adalah menyelamatkan umat manusia dari lembah kegelapan dan membawanya ke
tempat yang terang-benderang, lari dari jalan yang sesat kepada jalan yang
lurus, dari lembah kemusyrikan dengan segala bentuk kesengsaraan menuju kepada
tauhid yang menjanjikan kebahagiaan.
b. Tujuan Khusus
dakwah juga memiliki tujuan
secara khsus sebagai berikut:
a. Terlaksananya ajaran Islam
secara keseluruhan dengan cara yang benar dan berdasarkan keimanan.
b. Terwujudnya masyarakat
muslim yang diidam-idamkan dalam suatu tatanan hidup berbangsa dan bernegara,
adil, makmur, damai dan sejahtera di bawa limpahan rahmat karunia dan ampunan
Allah SWT.
c. Mewujudkan sikap beragama
yang benar dari masyarakat.
Tujuan dakwah tersebut dapat
diklasifikasikan lagi berdasarkan kriteria berupa aspek objek dan materi
dakwah.
Dilihat dari sisi objeknya,
tujuan dakwah adalah sebagai berikut. Pertama, tujuan perorangan, yakni
terbentuknya pribadi muslim yang memiliki iman yang kuat dan menjalankan hukum-hukum
Allah serta berakhlak mulia. Kedua, tujuan keluarga, yaitu terbentuknya
keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Ketiga, tujuan untuk masyarakat,
yaitu terbentuknya masyarakat sejahtera sesuai dengan yang digariskan Allah
SWT, dan keempat, tujuan untuk seluruh umat manusia, yaitu terbentuknya
masyarakat dunia yang penuh dengan kedamaian, ketenangan, ketentraman, tanpa
adanya diskriminasi dan eksplorasi.
Adapun tujuan dakwah dilihat
dari segi materinya adalah sebagai berikut: pertama, tujuan aqidah,
yakni tertanamnya aqidah tauhid yang mantap di dalam hati setiap manusia. Kedua,
tujuan hukum, yakni kepatuhan setiap manusia terhadap hukum-hukum yang telah
ditetapkan Allah SWT. Ketiga, tujuan akhlaq, yakni terbentuknya pribadi
muslim yang berbudi luhur dan dihiasi dengan sifat-sifat terpuji serta bersih
dari sifat-sifat yang tercela.
Pada hakikatnya, dakwah lintas
budaya merupakan cara bagaimana berdakwah dengan menggunakan budaya tersebut
sebagai media dan metode sehingga dakwah bisa diterima dalam masyarakat. Setiap
tempat, atau wilayah mempunyai kondisi sosial budaya yang berbeda-beda. Maka
dalam pendekatan dalam berdakwahpun berbeda-beda. Dakwah dengan budaya yang
berbeda menjadi perhatian khusus bagi seorang da’i. Meskipun tantangan yang
dihadapi berbeda akan tetapi terdapat kesamaan dalam tujuan dakwah, yaitu
mengajak manusia beriman kepada Allah SWT agar mendapat kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Fungsi Dakwah dalam
Komunikasi Antarbudaya
Dalam segi fungsi, seperti yang
kita ketahui sebelumnya, ilmu dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang upaya
mengajak umat manusia kepada jalan Allah, dibangun dan dikembangkan dengan
metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka memahami, memprediksi
(prediction), menjelaskan (explanation) dan mengontrol (control) berbagai
fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah.
Alo Liliweri pada bukunya
“Dasar-dasat komunikasi antar budaya”. Menurut beliau komunikasi antar budaya
memiliki Fungsi sosial, diantaranya :
1. Sosialisasi Nilai
Sosialisasi nilai merupakan fungsi untuk mengajarkan dan mengenalkan
nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.
2. Menjembatani Dalam proses
komunikasi antar peibadi, termasuk komunikasi antar budaya, maka fungsi
komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan
atas perbedaan diantara mereka. Fungsi menjembantani itu dapat terkontrol
melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan
perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.
3. Pengawasan Praktik komunikasi
antar budaya diantara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan
berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antar budaya fungsi
ini bermanfaat untuk menginformasikan perkembangan tentang lingkungan
(Liliweri, 2011. 9).
Dengan adanya ketiga fungsi
komunikasi antar budaya tersebut, komunikasi antar budaya dapat dijadikan
sebagai ilmu bantu dalam mengembangkan ilmu dakwah. Dalam hal ini yang dimaksud
adalah Dakwah Syu’ubiyah Qabailiyah (dakwah antar suku, budaya dan bangsa),
dimana Da’i dan mad’u berbeda suku dan budaya dalam satu kesatuan bangsa atau
pun berbeda bangsa (Enjang, 2009. 69).
Peran Dakwah Komunikasi Antarbudaya
Manifestasi dakwah Islam dapat
dilihat dari mempengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam
kaitannya dengan kehidupan pribadi dan sosial. Keberadaan dakwah Islam
senantiasa dihadapkan kepada realitas sosial yang mengitarinya.
Dalam menyikapi hal tersebut,
maka dakwah Islam paling tidak diharapkan berperan dalam dua arah. Pertama,
mampu memberikan output terhadap masyarakat dalam arti memberikan dasar
filosofi, arah dan dorongan untuk membentuk realitas baru yang lebih baik. Kedua,
dakwah Islam harus dapat mengubah visi kehidupan sosial dimana sosio-kultural
yang ada tidak hanya dipandang sebagai suatu kelaziman saja, tetapi juga
dijadikan kondusif bagi terciptanya baldatun tayyibatun wa rabbun ghofuur.
M. I’anur Rofi’ (B71219065)
Referensi:
Abd. Rahman. P. 2014. Peranan
Dakwah dan Komunikasi Antarbudaya Dalam Masyarakat Plural. Al-Munzir. Vol. 07 No.
1 Mei 2014.
Masykurotus. S. 2016. Budaya dan Kearifan Dakwah. Al-Balagh. Vol. 01. No. 01 Januari-Juni 2016.

Komentar
Posting Komentar