Pada hakikatnya komunikasi
adalah proses pernyataan manusia, yang dinyatakan itu adalah pikiran atau
perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat
penyalurnya. Dalam “bahasa” komunikasi pernyataan dinamakan pesan (message).32
Seperti halnya komunikasi lintas budaya juga merupakan proses komunikasi, yang
membedakan hanyalah antara komunikator dan komunikan mempunyai latar belakang
budaya yang berbeda.
Adapun pengertian komunikasi
antarbudaya antara lain:
a. Komunikasi antarbudaya
adalah pernyataan diri antar pribadi yang paling efektif antara dua orang
saling berbeda latar belakang.
b. Komunikasi antarbudaya
merupakan pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis,
bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budayanya.
c. Komunikasi antarbudaya
adalah pengalihan informasi dari seseorang yang berkebudayaan tertentu kepada
seorang yang berkebudayaan lain.
Definisi komunikasi antarbudaya
diatas menjelaskan sebuah proses komunikasi yang dilatarbelakangi budaya yang
berbeda. Keberhasilan proses komunikasi tentu saja tidak bisa lepas dari unsur-unsur komunikasi
antarbudaya. Seperti halnya proses komunikasi yang mempunyai unsur-unsur dalam
komunikasi.
Dakwah Lintas Budaya
Dakwah lintas budaya merupakan
sebuah proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antara da’i dan mad’u.
Dalam dakwah lintas budaya, keragaman merupakan tantangan bagi da’i supaya
mampu meramu pesan-pesan dakwah yang lebih bijaksana dengan mempertimbangkan
kondisi positif budaya mad’u termasuk memperhatikan media dan metode yang
dianggap bisa mendekatkan antara da’i dan mad’u. Perbedaan bahasa, budaya, dan lingkungan
tempat tinggal bisa menjadi permasalahan yang signifikan dalam proses dakwah.
Dakwah dalam tataran normatif
dan praktis, tidak dapat terlepas dari proses komunikasi sebab keberhasilan
seorang da‟i tidak bisa lepas dari kemampuannya dalam mengkomunikasikan ajaran–
ajaran Islam kepada masyarakat.
Melalui dakwah lintas budaya
menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima di semua lapisan
masyarakat, meskipun berbeda sosio-kultural, maupun norma. Metode dakwah yang
tidak menghapus budaya atau tradisi lama, menjadikan diterimanya ajaran Islam
di tengah-tengah masyarakat majemuk. Untuk mencapai semua itu, seorang da‟i
harus mempunyai planning atau rencana yang disebut dengan strategi. Strategi
dalam dakwah lintas budaya harus dirancang dengan matang sehingga tujuan dakwah
bisa tercapai. Hal ini harus dengan mempertimbangkan baik dari segi materi
dakwah, maupun metodenya.
M. I’anur Rofi’ (B71219065)

Komentar
Posting Komentar